Peraturan Dalam Hukum Transplantasi Organ Tubuh Manusia


Peraturan Hukum Transplantasi Organ Tubuh Manusia

Peraturan Dalam Hukum Transplantasi Organ Tubuh Manusia. Dalam hukum pidana berlaku asas yang sangant fundamental yaitu asas legalitas. Asas legalitas merupakan syarat utama untuk menindak suatu perbuatan yang tercela, yaitu adanya suatu ketentuan dalam undang – undang pidana yang merumuskan perbuatan yang tercela itu dan memberikan suatu sanksi terhadapnya. Pengertian asas legalitas dijelaskan oleh J.E.Sahetapy sebagai berikut :

  1. Suatu perbuatan dapat dipidana kalau termasuk ketentuan pidana menurut undang – undang. Oleh karena itu pemidanaan berdasarkan hukum tidak tertulis tidak dimungkinkan.
  2. Ketentuan pidana itu harus lebih dahulu ada daripada perbuatan itu, dengan perkataan lain, ketentuan pidana itu harus sudah berlaku ketika perbuatan itu dilakukan. Oleh karena itu ketentuan tersebut tidak berlaku surut, baik mengenai ketetapan dapat dipidana maupun sanksinya.

            Jadi dapat disimpulkan bahwa asas legalitas mempunyai pengertian bahwa tidak ada pemidanaan kecuali atas dasar undang – undang. Pengertian ini sangatlah penting, karena tidak semua perbuatan yang tercela dapat dipidana. Contohnya adalah Pasal 284KUHP tentang perzinaan, dalam nilai yang dianut dalam masyarakat Indonesia utamanya bergama islam, bahwa yang dikatakan perzinaan adalah semua yang melakukan hubungan layaknya suami – istri tanpa terkecuali sudah terikat pernikahan atau tidak. Namun dalam Pasal 284 KUHP mensyaratkan bahwa yang dapat dipidana adalah terikat penikahan atau salah satu terikat pernikahan, sehingga perzinaan yang dilakukan oleh orang yang tidak terikat pernikahan tidak dapat dipidana. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan nilai yang dianut oleh masyarakat, tetapi negara tidak bisa memidananya.

            Dalam menguraikan bagaimana pengaturan transplantasi organ tentunya tidak bisa dipisahkan dari asas ini, agar nantinya dapat diketahui secara komperhensif bagaimana pengaturannya. Pengaturan transpantasi organ diatur didalam berbagai peraturan yang ada di Indonesia, yaitu sebagai berikut :

  1. Pasal 204 KUHP

“(1) Barangsiapa menjual, menawarkan, menerimakan atau membagi – bagikan barang, sedang diketahuinya bahwa barang itu berbahaya bagi jiwa atau kesehatan orang dan sifat yang berbahaya itu didiamkannya dihukum penjara selama – lamanya lima belas tahun”.

“(2) Kalau ada orang mati lataran perbuatan itu sitersalah dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selama – lamanya dua puluh tahun”.

Komentar :

Pasal 204 ayat 1

  1. Subjek ( normadressaat ) : barangsiapa
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) yaitu :
  • menjual, menawarkan, menerimakan atau membagi – bagikan barang.
  • sedang diketahuinya bahwa barang itu berbahaya bagi jiwa atau kesehatan orang dan sifat berbahaya itu didiamkannya.

Analisis :

Dalam pasal 204 ayat 1 perbuatan “menjual, menawarkan, menerimakan atau membagi – bagikan barang” merupakan delik formil, dimana delik ini menitikberatkan kepada perbuatan yang dilarang, sehingga sitersalah sudah dapat dihukum apabila melakukan perbuatan salah satu diatas dengan diketahuinya bahwa barang tersebut adalah berbahaya bagi jiwa atau kesehatan orang.

Pasal 204 ayat 2

Komentar :

  1. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) yaitu :
  • mengakibatkan orang mati

Analisis :

Dalam pasal 204 ayat 2 merupakan delik yang memberatkan (gequalificeerde delict) dari delik pokok pada pasal 204 ayat 1 KUHP yaitu sitersalah bisa dikenakan pasal 204 ayat 2 bilamana mengakibatkan kematian pada korban. Misalnya setelah melakukan donor ginjal, kemudian pendonor meningal dunia, maka sitersalah dapat dikenakan pasal 204 ayat 2.

  1. Pasal 84 dan 85 Undang – undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Pasal 84

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh anak untuk pihak lain dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,- ( Dua ratus juta rupiah )”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • secara melawan hukum
  • melakukan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh anak untuk pihak lain
  • dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain.

Analisis

Bagian inti delik dalam pasal diatas untuk dapat dipidana sitersalah harus memenuhi bagian inti delik yaitu adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan dan adanya keinginan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Sifat melawan hukum ini tentunya bertentangan dengan pasal Pasal 47 Undang  – undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, berbunyi:

  1. Negara, pemerintah, keluarga dan orang tua wajib melindungi anak dari upaya transplantasi organ tubuhnya untuk pihak lain.
  2. Negara, pemerintah, keluarga dan orang tua wajib melindungi anak dari perbuatan:
  • Pengambilan organ tubuh anak dan/ atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak.
  • Jual beli organ dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak.
  • Penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua an tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak.

Pasal 85

“(1) Setiap orang yang melakukan jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun (lima belas tahun) dan/atau denda paling banyak Rp. 300,000,000 (tiga ratus juta rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) : melakukan jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak.

Analisis

Dalam pasal ini sitersalah dapat dihukum apabila melakukan jualbeli organ tubuh anak.

“(2) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan pengambilan organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak, atau penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai obyek penelitian tanpa seizin orang tua atau tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak, dipidan de ngan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 200,000,000 (dua ratus juta rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • secara melawan hukum melakukan pengambilan organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak.
  • tanpa memperhatikan kesehatan anak,
  • atau penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai obyek penelitian tanpa seizin orang
  • atua atau tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak.
  1. Pasal 2, 3, 4 ,5 ,6 dan 7 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan orang

UU No. 21 Tahun 2007 ini mengatur tentang larang untuk tindakan memperdagangkan organ tubuh manusia jelas diatur dalam Pasal 1 angka 7 dan Pasal 2, 3, 4, 5, 6 dan Pasal 7, dimana dalam pasal-pasal ini tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia sudah termasuk didalamnya. Dalam UU ini disebutkan dalam Pasal 13 bahwa tindak pidana perdagangan orang bukan hanya dilakukan oleh orang perorangan namun juga dapat dilakuakn oleh korporasi, kemudian selanjutnya dalam Pasal 15 ditentukan bahwa pidana yang dapat dikenakan terhadap korporasi yaitu pidana denda dengan pemberatan tiga (3) kali dari pidana denda tercantum dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 yaitu paling sedikit Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).

Pasal 2 Ayat 1

Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • melakukan perekrutan,
  • pengangkutan,
  • penampungan,
  • pengiriman,
  • pemindahan,
  • atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain,
  • untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia

Analisis

Pasal ini merupakan delik formil dimana dipenuhinya bagian inti delik diatas sitersalah dapat dikenakan pasal ini dan tidak harus menimbulkan akibat serta terpenuhinya inti delik untuk memperjualbelikan organ di wilayah Indonesia.

Pasal 2 ayat 2

Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”.

Kometar

  1. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi,
  • maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Analisis

Maksud pasal ini adalah apabila sitersalah telah melakukan perbuatan sebagaimana dalam rumusan ayat satu diatas telah mengakibatkan terjualnya salah satu organ tubuh korban, maka sitersalah dihukum sama dengan ayat satu.

Pasal 3

Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di wilayah negara Republik Indonesia atau dieksploitasi di negara lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • memasukkan orang ke wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di wilayah negara Republik Indonesia
  • atau dieksploitasi di negara lain

Analisis

Maksud dari pasal ini adalah yang dapat dikenakan pasal ini adalah sitersalah yang telah memasukkan korban jualbeli organ dari luar negeri masuk ke dalam negeri ataupun sebaliknya.

Pasal 4

Setiap orang yang membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah negara Republik Indonesia
  • dengan maksud untuk dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia

Analisis

Sitersalah dikenakan pasal adalah cukup dengan membawa keluar dari Indonesia dengan maksud untuk menjual organ korbanya keluar negeri.

Pasal 5

Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • melakukan pengangkatan anak
  • dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu
  • dengan maksud untuk dieksploitasi

Analisis

Maksud pasal ini yang dapat dipersalahkan dengan menggunakan pasal ini adalah sitersalah telah melakukan pengangkatan anak dimana mempunyai maksud untuk diperjualbelikan organ anak tersebut dengan cara menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu.

Pasal 6

Setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apa pun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apa pun
  • yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi.

Analisis

Yang dapat dipersalahkan pasal ini adalah sitersalah yang telah melakukan pengiriman anak guna diperjualbelikan organ anak tersebut.

Pasal 7 ayat 1 dan 2

“(1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan korban menderita luka berat, gangguan jiwa berat, penyakit menular lainnya yang membahayakan jiwanya, kehamilan, atau terganggu atau hilangnya fungsi reproduksinya, maka ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6”.

“(2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama penjara seumur hidup

dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah)”.

Komentar :

  1. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • mengakibatkan korban menderita luka berat,
  • gangguan jiwa berat,
  • penyakit menular lainnya yang membahayakan jiwanya, kehamilan, atau terganggu atau hilangnya fungsi reproduksinya,
  • mengakibatkan matinya korban

Analisis

Dalam pasal 7 ayat 1 dan 2 merupakan delik yang memberatkan (gequalificeerde delict) dari delik pokok pada pasal Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.

  1. Pasal 192 Undang – undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

Pasal 192

Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau jaringan tubuh dengan dalih apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

Komentar :

  1. Subjek ( normadressaat ) : Setiap orang
  2. Bagian inti delik ( delicts bestanddelen ) :
  • dengan sengaja
  • memperjualbelikan organ atau jaringan tubuh dengan dalih apapun

Analisis

Pasal ini sitersalah yang dapat dikenakan delik ini adalah apabila terpenuhinya inti delik yaitu adanya kesengajaan untuk memperjualbelikan organ atau jaringan tubuh.

            Dari berbagai aturan yang sudah dijelaskan diatas dapat kita simpulkan bahwasanya dalam transplantasi organ, jaringan, dan sel yang dilarang oleh hukum positif Indonesia adalah tindakan tersebut “memenuhi unsur komersial, unsur membahayakan pendonor organ dan unsur penipuan”. Jadi dapat disimpulkan bawasanya transplantasi organ menurut hukum positif diperbolehkan untuk kepentingan “kemanusiaan” sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia atas kesehatan dan dilarang untuk kepentingan komersial, membahayakan kesehatan pendonor dan dilakukan dengan cara penipuan.

[1] J.E.Sahetapy, Hukum Pidana, Cetakan kesatu  ( Yogyakarta :  Liberty, 1995 ) hlm 3

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *